15 Jan 2026, Thu

Formalitas dalam SPPG dan Tantangan Menjaga Substansi

Formalitas dalam SPPG sering muncul ketika prosedur administrasi menjadi tujuan, bukan lagi alat untuk memastikan mutu layanan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dibentuk untuk menjamin proses produksi dan distribusi makanan berjalan aman, efisien, dan terstandar. Namun, di lapangan, tekanan target dan beban laporan kadang menggeser fokus pelaksana. Akibatnya, sebagian aktivitas lebih sibuk mengejar kelengkapan dokumen daripada memastikan kualitas benar-benar terjaga.

Ketika Prosedur Menjadi Tujuan

Pada dasarnya, prosedur dibuat untuk mempermudah pengawasan. Masalah mulai muncul saat prosedur itu diperlakukan sebagai tujuan akhir. Banyak tim mengejar tanda tangan, stempel, dan laporan tepat waktu, tetapi kurang memberi ruang untuk refleksi atas proses yang berjalan. Dalam kondisi seperti ini, kepatuhan terlihat rapi di atas kertas, sementara praktik di lapangan belum tentu sejalan.

Pergeseran fokus ini sering dipicu oleh cara penilaian kinerja. Jika indikator keberhasilan hanya menekankan kelengkapan administrasi, maka energi terbesar akan tercurah ke sana. Pelaksana pun belajar bahwa yang paling aman adalah memastikan berkas lengkap, meskipun masih ada celah dalam kualitas operasional.

Ketika Administrasi Mengalahkan Substansi Pelayanan

Dalam banyak situasi, administrasi yang terlalu dominan bisa menggeser tujuan utama layanan. Kondisi ini biasanya ditandai oleh beberapa gejala berikut:

  • Laporan menjadi fokus utama dibanding mutu proses.
  • Energi tim habis untuk urusan dokumen.
  • Evaluasi lebih menilai kerapian berkas.
  • Perbaikan nyata sering tertunda karena tidak tercatat.

    Dampak Formalitas terhadap Mutu Layanan

    Formalitas yang berlebihan membawa beberapa konsekuensi. Pertama, inovasi menjadi tersisih karena tidak tercantum jelas dalam daftar kewajiban administratif. Kedua, evaluasi berubah menjadi rutinitas seremonial yang jarang menyentuh akar masalah. Ketiga, tim lapangan bekerja dalam tekanan untuk “tampak patuh”, bukan untuk “benar-benar baik”.

    Dalam jangka panjang, kondisi ini menciptakan ilusi keteraturan. Program terlihat berjalan mulus, tetapi perbaikan substantif berlangsung lambat. Jika dibiarkan, kesenjangan antara laporan dan realitas akan makin lebar, dan kepercayaan publik berisiko menurun.

    Mengapa Formalitas Mudah Menguat?

    Ada beberapa faktor yang mendorong menguatnya formalitas. Tekanan target membuat banyak pihak memilih jalur paling aman. Selain itu, koordinasi lintas unit yang belum rapi sering melahirkan standar ganda, sehingga pelaksana lebih memilih mengikuti bentuk daripada memperjuangkan isi. Di sisi lain, keterbatasan sumber daya membuat sebagian tim memprioritaskan hal-hal yang mudah diukur, yaitu dokumen dan laporan.

    Padahal, substansi layanan tidak selalu bisa diringkas menjadi angka dan tabel. Ia membutuhkan pengamatan, dialog, dan perbaikan berkelanjutan. Tanpa itu, SPPG berisiko terjebak dalam rutinitas yang tampak sibuk, tetapi kurang berdampak.

    Peran Sarana dan Standarisasi yang Sehat

    Salah satu cara mengurangi tekanan formalitas adalah memastikan sarana kerja memadai dan alur operasional sederhana. Ketika dapur dan peralatan sudah terstandar, tim tidak perlu menghabiskan energi untuk mengatasi masalah teknis dasar. Dalam konteks ini, banyak pelaksana mulai melihat pusat alat dapur MBG sebagai rujukan karena membantu menyediakan peralatan yang efisien dan seragam, sehingga perhatian bisa kembali ke kualitas proses, bukan sekadar kelengkapan administrasi.

    Standarisasi yang sehat seharusnya memudahkan, bukan membebani. Jika standar justru menambah lapisan birokrasi tanpa memperbaiki proses, maka ia perlu ditinjau ulang.

    Menggeser Fokus dari Bentuk ke Isi

    Mengurangi formalitas bukan berarti mengabaikan aturan. Justru sebaliknya, aturan perlu ditempatkan pada fungsinya yang tepat. Evaluasi harus diarahkan untuk menemukan ruang perbaikan, bukan sekadar memeriksa kepatuhan. Laporan seharusnya menjadi alat belajar, bukan hanya bukti bahwa kewajiban sudah ditunaikan.

    Selain itu, indikator kinerja perlu diseimbangkan antara aspek administratif dan kualitas layanan. Dengan begitu, pelaksana memiliki insentif untuk memperbaiki proses, bukan hanya merapikan dokumen.

    Kesimpulan

    Formalitas dalam SPPG adalah tanda bahwa sistem masih perlu diselaraskan dengan tujuan besarnya. Program ini membawa misi penting, sehingga ia membutuhkan tata kelola yang menempatkan substansi di atas seremonial. Jika prosedur kembali difungsikan sebagai alat, sarana kerja diperkuat, dan evaluasi diarahkan pada perbaikan nyata, SPPG tidak hanya akan tampak tertib di atas kertas, tetapi juga benar-benar memberi dampak bagi kualitas layanan.

  • By siti

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *